Kamis, 02 Februari 2017

TUGAS CERPEN BAHASA INDONESIA

Cinta Segitiga antara Allah, Aku dan Dia
Oleh : Yusuf Budi. P
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa dimulutnyamasih menggumpal dan terus mengalir dari bibirnya yang terlihat pucat itu. Badannya kejang-kejang dan tangannya menggenggam botol berwarna putih dan tampak ada gambar serangga. Ya, tampaknya ia habis meminum obat tikus itu. Tidak ada satu orangpun penghuni kost-kostan yang mengetahui bahwa ia  mencoba untuk bunuh diri. Semua penghuni kamar kostpun telah terlelap dalam mimpi indahnya. Hawa udara yang dingin di pertengahan malampun menambah indahnya mimpi para penghuni kost yang tertutup selimut itu. Tapi tidak dirasakan oleh Rini yang masih terkapar di kamarnya.
*****
Akhir-akhir ini Rini memang jarang kelihatan di kostnya. Teman-temanpun mulai curiga dengan perilaku Rini yang cenderung menjadi pribadi yang tertutup dan tiap malam sering melamun sendirian di depan kostnya. Kini Rini yang sekarang bukan Rini yang dulu. 180 derajat berubah drastis. Rini dulu yang ramah dan banyak bicaranya itu kini berubah menjadi Rini yang dingin. Kini jarang teman-temannya mendengar suara cemprengnya yang khas itu. Padahal dulu setiap pagi teman-temannya terbangun karena suara cemprengnya itu. Bahkan burung-burungpun harus bersaing dengan indahnya suara Rini saat bernyanyi di pagi hari buat bangunin teman-temannya. Sebelum adzan subuh berkumandangpun Rini sudah asyik nyanyi-nyayi sendirian di depan kostnya. Tapi entah pergi kemana jiwa Rini yang dulu itu. Kini seakan-akan ada penghuni kost baru yang kurang ramah yang jasadnya menyerupai Rini. Pagi hari, siang hari Rini jarang kelihatan. Tapi kalu malam hari teman-temannyapun sering melihat dirinya duduk melamun dengan tatapan kosong.
Terkadang teman-temannyapun terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan dari kamar Rini yang sering membuat teman-temannya yang lain menjadi takut. Pasalnya, jam 11, jam 12 mendadak ada tangisan. Terkadang teman-temannya merasa takut dan terganggu. Tapi di lain sisi juga merasa iba dengan keadaan Rini yang sekarang ini. Teman-temannya hanya bisa melihat dari jendela kamarnya masing-masing. Karena kalau di dekatin dan dihibur tangisannya semakin menjadi-jadi. Dan terlihat semakin tersiksa dengan adanya teman-temannya yang mencoba menghibur. Sepertinya Rini benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa mengerti perasaannya.
Dulu Rini yang selalu berpenampilan anggun dan tertutup rapat kini seolah-olah kehilangan jati dirinya. Kini Rini yang berpenampilan apa adanya dan jilbabnya yang terlepas dari rambutnya mengurangi pesona dari dalam dirinya. Lagaknya Rini seperti orang stres yang memikul beban sangat berat. Kalau ditanyapun jawabnya cuma sekenanya dan memilih untuk cuek. Entah sudah berapa kali Rini absen dari kuliahnya. Tapi untungnya salah satu temannya sudah melaporkan keadaan Rini sekarang ini kepada para dosennya. Dan dosennya bisa memakluminya asalkan bisa menyesuaikan diri secepatnya. Rini memang diakui parasnya yang cantik dan anggun oleh banyak cowok maupun cewek. Tak terkecuali dengan Angga yang juga dikagumi banyak orang karena ketampanannya dan akhlaknya yang baik.
*****
Pagi menjelang, suara ayam jantan kembali berkokok untuk kesekian kalinya. Indahnya suara adzan subuhpun berkumandang dan saling bersaut-sautan. Tetapi hujan di luar sana membuat orang yang berselimut enggan bangun menemui panggilan dari sang Ilahi. Tapi masih ada 2-5 penghuni kamar kost yang menuju ke masjid yang letaknya tak berjauhan dengan kostnya.
“ Astaghfirullah Riniiiiiii……” jerit Anna ketika melihat Rini dari jendela yang semalaman tidak ditutupi gorden.
Anna yang sudah rapi dengan mukenanya untuk pergi ke masjid tiba-tiba mengalihkan perhatiannya dan segera mendekati Rini yang terbujur kaku di kamarnya.
“ Ada apa denganmu Rin? Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu nekad seperti ini?” Tanya Anna sahabat Rini sejak 3 tahun silam.
Hanya kebisuan yang jadi jawaban dari Rini.
“ Tolooooong… toloooong” suara Anna meminta tolong yang tak lama kemudian kamar Rini penuh dengan orang yang berdatangan.
“ Apa yang terjadi dengan Rini An ?” Tanya Tita yang juga teman dekat Rini.
“ Aku juga nggak tau Ta. Tadi aku kesini dia udah kaya gini.”
Orang yang ada di kamar Rini itu pada nebak-nebak mengapa Rini nekad melakukan hal seperti itu. Ada yang beranggapan masalah keluarga, ada yang beranggapan karena masalah cinta, dan berbagai anggapan dari orang-orang penghuni kost tersebut.
“ Yaudah ayo kita bawa Rini ke Rumah Sakit sekarang!” perintah Tita sambil bersiap-siap membopong Rini.
“Tolong ada yang cariin mobil ke tetangga buat bawa Rini ke Rumah sakit!” pinta Anna.
“Yaudah biar aku sama Hesti aja yang cari mobil ke tetangga.” jawab Tasya.
“Tolong cepat ya Sa” pinta Tita.
“Aku usahain secepatnya” jawab Tasya.
10 menit kemudian Tasya dan Hesti kembali ke kost dan bilang kalau dia sudah dapat pinjaman mobil dari pak RT.
“ Yaudah ayo kita bawa Rini ke mobil!” perintah Anna.
Rini langsung dilarikan ke ruang UGD oleh pihak rumah sakit. Anna dan Tita menunggu Rini di rumah sakit. Karena tidak ada sanak saudaranya yang tau, dan mereka bersepakat untuk tidak memberi tahu keluarga Rini dulu. Karena kasian keadaan orang tuanya kalau orang tuanya sampai tahu kejadiin ini.
“ Dok, tolong berikan yang terbaik buat teman saya ya dok!” kata Anna kepada pak dokter di depan ruang UGD.
“ Ya kami akan berusaha yang terbaik buat teman Anda dan jangan lupa berdoa yang terbaik buat teman Anda ini.” Jawab pak dokter.
“ Terimakasih banyak ya pak” kata Tita dengan wajah memelas karena prihatin dengan keadaan Rini.
“ Iya sama-sama.” Jawab pak dokter sambil menutup pintu ruang UGD.
“ Oiya Ta, aku sampai lupa kalau aku belum shalat subuh.” Kata Anna sambil melihat jam tangannya.
“ Aku juga An. Kalau begitu kita cari masjid dulu aja.”
“ Yaudah, tapi nanti kita kesini lagi kan?” kata Anna.
“ iya. Kita tunggu Rini sampai dia siuman. Kasian dia.”
*****
Sebagian teman kostnya Rini masih ada yang di kamarnya untuk merapikan tempat tidur Rini yang berantakan. Ketika Septi mau menaruh buku bindernya Rini, Septi penasaran dengan buku harian Rini itu yang tadinya tergeletak di dekat Rini. Akhirnya Septi membuka buku harian itu siapa tahu ada jawaban tentang Rini yang nekad mencoba bunuh diri itu. Ketika membuka lembar demi lembar, tidak ditemukan tulisan atau tanda-tanda yang berarti. Tetapi setelah di halaman tengah-tengah, ada potongan undangan pernikahan dari temannya, yaitu Angga. Awalnya Septi tidak begitu mendapat tanda-tanda tentang undangan itu, dikiranya itu Cuma buat pembatas aja. Tetapi setelah membuka beberapa halaman, di buku hariannya Rini itu ada secarik foto Angga yang sepertinya dia dapat dari potongan majalah terbitan dari kampusnya. Disitu sedikit demi sedikit Septi bisa menarik kesimpulan dan masih menduga-duga. Septi melanjutkan mebuka halaman selanjutnya. Di halaman selanjutnya ada tulisan yang hamper dua halaman. Septi membaca tulisan tersebut dengan nada lirih supaya temannya juga dengar. Dan akhirnya setelah membaca tulisan itu sampai selesai, akhirnya ada titik terang tentang hal yang sebenarnya terjadi pada diri Rini”
“ Oooo ternyata Rini suka sama Angga. Tapi Angganya udah mau nikahan, dan hal ini membuat Rini jadi frustasi karena hal itu.”  Kata Septi kepada teman-temannya yang berada di kamarnya Rini.
“ sepertinya Rini suka banget ya sama Angga, sampai-sampai dia jadi nekad mau bunuh diri.” Imbuh Heny.
“ Sepertinya sih begitu kalau dilihat dari tulisan ini. Tapi apa Anga juga tahu ya kalau Rini suka sama dia?” Tanya Septi penasaran.
“ Entahlah yang pasti gimana.” Jawab Heny.
“ gimana kalau buku ini kita kasih ke Anna dan Tita biar mereka juga tahu penyebabnya. DMerka kan teman dekatnya. Siapa tahu bisa membantu nyelesaiin masalah ini.” Kata Septi.
“ Kalau begitu biar aku aja yang nyusul kerumah sakit dan ngasih buku itu. Mumpung hari ini aku tidak ada kuliah pagi.” Tawar Heny.
“ Yaudah, kalau kamu yang mau ngasih buku ini ke Anna dan Tita.
Kemudian mereka meneruskan merapikan kamarnya Rini. Dan Heny bersiap-siap untuk nyusul ke rumah sakit.
*****
Sekitar pukul setengah tujuh, Heny ssampai di rumah sakit dan mencari ruang dimana Rini dirawat. Dari kejahuan, Heny melihat Tita dan Anna yang sedang duduk di depan ruang UGD. Langsung saja Heny mendekati dua wanita dengan kerudung lebar itu.
“ Assalamualaikum An, Ta.”
“ Waalaikum salam.” Jawab mereka berdua yang hamper bersamaan.
“ Gimana keadaan Rini sekarang?” Tanya Heny.
“ Belum ada kepastian Hen, doakan saja semoga Rini baik-baik saja.”
“ Ini An, tadi aku dan temen-temen pas beresin kamarnya Rini buka-buka buku ini yang tadinya tergeletak di samping Rini. Dan ternyata ada curahan hatinya, foto seorang laki-laki dan potongan-potongan surat undangan.” Kata Heny sambil ngasih buku itu ke Anna.
Kemudian Anna dan Tita membaca-baca buku itu.
“ Ini kan temennya Rini dikampus waktu kita ketemu itu kan?” tanyaTita penasaran.
“ Sepertinya sih iya. Sepertinya dia jatuh cinta banget deh sama dia. Tapi sayangnya setengah bulan lagi dia mau menikah”. Jawab Anna sambil membaca surat undangan.
“ Kok bisa ya gadis seperti Rini jatuh cinta sampai begini.” Tanya Anna.
“ Semua bisa terjadi An karena cinta. Bahkan ada yang rela menjual akidahnya ddemi kekasihnya yang berbeda agama.” Jawab tita.
“ Iya juga sih.”
Ketika mereka bertiga berbincang-bincang di depan ruang UGD dan jarum jam menunjukkan pukul delapan, tiba-tiba dokter keluar. Mereka langsung berdiri dan bertanya tentang keadaan temannya itu.
“ gimana keadaan teman saya dok?” Tanya Anna.
“ Alhamdulillah teman Anda baik-baik saja. Sekarang dia udah siuman dan perlu istirahat dulu. Untungnya kalian segera membawanya ke rumah sakit. Karena racun yang berada di tubuhnya belum menyebar ke seluruh badannya.” Jawab pak dokter.
“ Apa kita udah boleh masuk menemui teman saya pak?”
“ Sudah. Tapi dia jangan terlalu capek dulu dan perlu perawatan yang intensif. Kalau besok keadaannya sudah membaik, bisa langsung dibawa pulang. Nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi saya atau perawat yang lainnya.” Kata pak dokter.
“ Ya dok. Terimakasih banyak ya dok.”
“ Iya sama-sama.” Jawab pak dokter yang rawah dan masih muda itu.
Kemudian mereka bertiga masuk menemui Rini.
“ Gimana keadaanmu Rin?” Tanya Heny.
“ Terimakasih ya kalian udah peduli sama aku. Entah setan apa yang udah masuk ke dalam tubuhku sehinga aku nekad seperti ini.”  Jawab Rini sambil berlinangan air mata menyesali perbuatannya itu.
“ Iya santai aja Rin. Kita disini udah jadi keluarga besar setelah keluarga di rumah. Jadi ya udah jadi kewajiban kita buat tolong menolong.” Hibur Anna.
“ Iya Rin betul apa yang dikatakan Anna. Kalau kamu butuh apa-apa atau ada maslah apa, kamu bisa curhat ke aku, apa Anna apa Heny yang kamu anggap paling nyaman. Siapa tau kita bisa bantu walau hanya kecil.” Tambah Tita.
“ kalau boleh tau, sebenarnya apa yang terjadi Rin sehingga kamu akhir-akhir ini terlihat menderita banget.” Tanya Heny yang pura-pura tidak tau tentang masalahnya.
Sebelum menjawab, Rini kembali meneteskan air matanya yang entah keberapa kali karena teringat laki-laki idamannya itu.
“ Aslinya ya Cuma masalah sepele. Aku punya rasa sama laki-laki idamanku. Awalnya ya aku kira ini Cuma iseng-iseng aja. Kok aku rasain tiap hari aku makin cinta sama lkai-laki itu. Bahkan terbawa sampai ke dalam mimpi. Tadinya aku mau ngunggkapin perasaanku ini tapi nggak kesampaian juga karena gengsi aku cewek. Aku pendam terus-menerus malah tambah menyiksa pikiranku saja. Hingga suatu hari, aku mendapat undangan dari dia tentang pernikahannya. Hal itu langsung menusuk hatiku. Tanpa kata apa-apa, aku langsung meninggalkannya dan menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Setiap hari aku terbawa perasaan karena dia. Aku yang hanya seorang cewek apa dayaku yang hanya bisa memendam perasaaan ini berlarut-larut hingga aku tersiksa seperti ini.” Jeals Rini sambil menatap langit-langit dinding.
“ Ya itulah cinta Rin. Kalau orang sudah cinta, apapun rela dilakukan demi mendapat yang namanya cinta. Banyak orang yang rela menukarkan akidahnya dengan cinta. Kamu harusnya bersyukur Rin Allah masih sayang sama kamu, kamu masih diberi kesempatan untuk menata diri lagi. Dan kamu harus bersyukur tidak masuk ke lembah perzinaan. Diluar sana banyak yang rela berzina demi membuktikan rasa kasih sayangnya itu, iya kalau akhirnya dinikahi, kalau akhirnya ditinggal pergi? Apa tidak rugi besar? Ini adalah yang terbaik dari Allah untuk kamu Rin. Allah masih sayang sama kamu. Allah pasti akan beri kamu yang terbaik. Kalau dia memang jodohmu dan terbaik untukmu, aku yakin, bahwa Allah akan dekatkan dia kepadamu dengan jalan yang benar. Kalaupun tidak, berarti ada yang jauh lebih baik untuk kamu Rin.” Hibur Anna.
“ Betul yang dikatakan Anna Rin, toh jodoh juga udah ada yang nentuin. Deketin aja yang nentuin itu, minta yang terbaik. Pasti kamu akan di beri yang terbaik. Pokoknya kamu jadi baik dulu, pati kamu akan mendapat yang baik juga. Bukannya jodoh itu cerminan diri? Wanita baik untuk laki-laki yang baik juga dan sebaliknya. Itu sudah jelas dan pasti karena itu Allah sendiri yang berfirman. Seperti kisah nabi Yusuf sama zulaikha. Ketika zulaikha mengejar cinta Yusuf, semakin jauh Yusuf darinya. Tetapi ketika zulaikha sadar dan mencoba mendekatkan diri kepada Allah, Allah datangkan Yusuf untuk Zulaikha.” Sambung Heny.
“ Ya intinya kamu jadi baik dulu, kalau kamu udah jadi pribadi yang baik, pasti kamu akan menemukan yang baik juga. Kalau kamu tidak menemukan yang baik, kamu pasti yang akan ditemukan orang yang baik. Sembari mencari, mengapa tidak sambil memperbaiki diri? Lagian juga, siapa sih yang nggak  mau sama kamu yang cantik itu Rin? Mungkin laki-laki idamanmu itu juga suka sama kamu. Mungkin dia menikah karena dijodohkan orang tuanya atau karena faktor yang lainnya.” sambung Tita yang tak mau kalah dengan Anna dan Heny sambil tersenyum kepada Rini.
Rinipun reflek tersenyum. Mereka yang ada di ruangan itu merasakan kebahagiaan. Rini bahagia Karena ada orang yang begitu perhatian dan sayang kepadanya dan mereka bertiga bahagia karena bisa menolong temannya itu juga bisa membuat Rini tersenyum.
“ Terimakasih ya kalian udah nyemangatin dan perhatian sama aku.” Ucap Rini.
                Setelah keluar dari rumah sakit dan sembuh dari sakitnya, Rini tambah semangat memperbaiki dirinya dan bisa seperti sedia kala. Dia tambah rajin mengikuti halaqah-halaqah dengan teman-teman peerempuan disuatu majelis.
1 tahun kemudian.
                Rini akhirnya dilamar oleh laki-laki yang dikenalkan dari teman halawahnya. Dan Rini merasa sangat cocok dengan laki-laki yang dikenalkan padanya itu. Semua kreteria Rini ada pada laki-laki itu. Akhirnya laki-laki itu melamarnya dan melangsungkan pernikahan seminggu setelah Rini wisuda. Tak lupa Tita, Anna dan Heny diundang dalam resepsi pernikhan itu. Dan Rini sangat berterimakasih kepada mereka atas nasihatnya ketika dulu dia sakit. Dan semua perkataan mereka terbukti. Dan ternyata laki-laki itu temannya Angga, laki-laki yang dulu pernah mampir di hatinya. Tetapi Rini sudah bisa move on dan tidak terbawa perasaannya karena telah menemukan imam yang dia damba-dambakan. Dalam hatinya, Rini mensyukuri nikmat yang sangat besar itu. Dan akhirnya mereka bisa hidup bahagia karena benuh-benih cinta diantara mereka bertiga. Ya diantara mereka bertiga. Diantara Rini,  suaminya dan Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang itu.

The end.