Cinta Segitiga antara Allah, Aku dan
Dia
Oleh
: Yusuf Budi. P
Wanita muda
itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa dimulutnyamasih menggumpal dan
terus mengalir dari bibirnya yang terlihat pucat itu. Badannya kejang-kejang
dan tangannya menggenggam botol berwarna putih dan tampak ada gambar serangga.
Ya, tampaknya ia habis meminum obat tikus itu. Tidak ada satu orangpun penghuni
kost-kostan yang mengetahui bahwa ia
mencoba untuk bunuh diri. Semua penghuni kamar kostpun telah terlelap
dalam mimpi indahnya. Hawa udara yang dingin di pertengahan malampun menambah
indahnya mimpi para penghuni kost yang tertutup selimut itu. Tapi tidak
dirasakan oleh Rini yang masih terkapar di kamarnya.
*****
Akhir-akhir
ini Rini memang jarang kelihatan di kostnya. Teman-temanpun mulai curiga dengan
perilaku Rini yang cenderung menjadi pribadi yang tertutup dan tiap malam
sering melamun sendirian di depan kostnya. Kini Rini yang sekarang bukan Rini
yang dulu. 180 derajat berubah drastis. Rini dulu yang ramah dan banyak
bicaranya itu kini berubah menjadi Rini yang dingin. Kini jarang teman-temannya
mendengar suara cemprengnya yang khas
itu. Padahal dulu setiap pagi teman-temannya terbangun karena suara cemprengnya
itu. Bahkan burung-burungpun harus bersaing dengan indahnya suara Rini saat
bernyanyi di pagi hari buat bangunin teman-temannya. Sebelum adzan subuh
berkumandangpun Rini sudah asyik nyanyi-nyayi sendirian di depan kostnya. Tapi
entah pergi kemana jiwa Rini yang dulu itu. Kini seakan-akan ada penghuni kost
baru yang kurang ramah yang jasadnya menyerupai Rini. Pagi hari, siang hari
Rini jarang kelihatan. Tapi kalu malam hari teman-temannyapun sering melihat
dirinya duduk melamun dengan tatapan kosong.
Terkadang
teman-temannyapun terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan dari
kamar Rini yang sering membuat teman-temannya yang lain menjadi takut.
Pasalnya, jam 11, jam 12 mendadak ada tangisan. Terkadang teman-temannya merasa
takut dan terganggu. Tapi di lain sisi juga merasa iba dengan keadaan Rini yang
sekarang ini. Teman-temannya hanya bisa melihat dari jendela kamarnya
masing-masing. Karena kalau di dekatin dan dihibur tangisannya semakin
menjadi-jadi. Dan terlihat semakin tersiksa dengan adanya teman-temannya yang mencoba
menghibur. Sepertinya Rini benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa mengerti
perasaannya.
Dulu Rini yang
selalu berpenampilan anggun dan tertutup rapat kini seolah-olah kehilangan jati
dirinya. Kini Rini yang berpenampilan apa adanya dan jilbabnya yang terlepas
dari rambutnya mengurangi pesona dari dalam dirinya. Lagaknya Rini seperti
orang stres yang memikul beban sangat berat. Kalau ditanyapun jawabnya cuma
sekenanya dan memilih untuk cuek. Entah sudah berapa kali Rini absen dari
kuliahnya. Tapi untungnya salah satu temannya sudah melaporkan keadaan Rini
sekarang ini kepada para dosennya. Dan dosennya bisa memakluminya asalkan bisa
menyesuaikan diri secepatnya. Rini memang diakui parasnya yang cantik dan
anggun oleh banyak cowok maupun cewek. Tak terkecuali dengan Angga yang juga
dikagumi banyak orang karena ketampanannya dan akhlaknya yang baik.
*****
Pagi
menjelang, suara ayam jantan kembali berkokok untuk kesekian kalinya. Indahnya
suara adzan subuhpun berkumandang dan saling bersaut-sautan. Tetapi hujan di
luar sana membuat orang yang berselimut enggan bangun menemui panggilan dari
sang Ilahi. Tapi masih ada 2-5 penghuni kamar kost yang menuju ke masjid yang
letaknya tak berjauhan dengan kostnya.
“ Astaghfirullah Riniiiiiii……”
jerit Anna ketika melihat Rini dari jendela yang semalaman tidak ditutupi
gorden.
Anna yang sudah rapi dengan
mukenanya untuk pergi ke masjid tiba-tiba mengalihkan perhatiannya dan segera
mendekati Rini yang terbujur kaku di kamarnya.
“ Ada apa denganmu Rin? Apa yang
terjadi? Apa yang membuatmu nekad seperti ini?” Tanya Anna sahabat Rini sejak 3
tahun silam.
Hanya kebisuan yang jadi jawaban
dari Rini.
“ Tolooooong… toloooong” suara
Anna meminta tolong yang tak lama kemudian kamar Rini penuh dengan orang yang
berdatangan.
“ Apa yang terjadi dengan Rini An
?” Tanya Tita yang juga teman dekat Rini.
“ Aku juga nggak tau Ta. Tadi aku kesini dia udah kaya gini.”
Orang yang ada di kamar Rini itu
pada nebak-nebak mengapa Rini nekad melakukan hal seperti itu. Ada yang
beranggapan masalah keluarga, ada yang beranggapan karena masalah cinta, dan
berbagai anggapan dari orang-orang penghuni kost tersebut.
“ Yaudah ayo kita bawa Rini ke
Rumah Sakit sekarang!” perintah Tita sambil bersiap-siap membopong Rini.
“Tolong ada yang cariin mobil ke
tetangga buat bawa Rini ke Rumah sakit!” pinta Anna.
“Yaudah biar aku sama Hesti aja
yang cari mobil ke tetangga.” jawab Tasya.
“Tolong cepat ya Sa” pinta Tita.
“Aku usahain secepatnya” jawab
Tasya.
10 menit kemudian Tasya dan Hesti
kembali ke kost dan bilang kalau dia sudah dapat pinjaman mobil dari pak RT.
“ Yaudah ayo kita bawa Rini ke
mobil!” perintah Anna.
Rini langsung dilarikan ke ruang
UGD oleh pihak rumah sakit. Anna dan Tita menunggu Rini di rumah sakit. Karena
tidak ada sanak saudaranya yang tau, dan mereka bersepakat untuk tidak memberi
tahu keluarga Rini dulu. Karena kasian keadaan orang tuanya kalau orang tuanya
sampai tahu kejadiin ini.
“ Dok, tolong berikan yang
terbaik buat teman saya ya dok!” kata Anna kepada pak dokter di depan ruang
UGD.
“ Ya kami akan berusaha yang
terbaik buat teman Anda dan jangan lupa berdoa yang terbaik buat teman Anda
ini.” Jawab pak dokter.
“ Terimakasih banyak ya pak” kata
Tita dengan wajah memelas karena
prihatin dengan keadaan Rini.
“ Iya sama-sama.” Jawab pak
dokter sambil menutup pintu ruang UGD.
“ Oiya Ta, aku sampai lupa kalau
aku belum shalat subuh.” Kata Anna sambil melihat jam tangannya.
“ Aku juga An. Kalau begitu kita
cari masjid dulu aja.”
“ Yaudah, tapi nanti kita kesini
lagi kan?” kata Anna.
“ iya. Kita tunggu Rini sampai
dia siuman. Kasian dia.”
*****
Sebagian teman
kostnya Rini masih ada yang di kamarnya untuk merapikan tempat tidur Rini yang
berantakan. Ketika Septi mau menaruh buku bindernya
Rini, Septi penasaran dengan buku harian Rini itu yang tadinya tergeletak di
dekat Rini. Akhirnya Septi membuka buku harian itu siapa tahu ada jawaban
tentang Rini yang nekad mencoba bunuh diri itu. Ketika membuka lembar demi
lembar, tidak ditemukan tulisan atau tanda-tanda yang berarti. Tetapi setelah
di halaman tengah-tengah, ada potongan undangan pernikahan dari temannya, yaitu
Angga. Awalnya Septi tidak begitu mendapat tanda-tanda tentang undangan itu,
dikiranya itu Cuma buat pembatas aja. Tetapi setelah membuka beberapa halaman,
di buku hariannya Rini itu ada secarik foto Angga yang sepertinya dia dapat
dari potongan majalah terbitan dari kampusnya. Disitu sedikit demi sedikit
Septi bisa menarik kesimpulan dan masih menduga-duga. Septi melanjutkan mebuka
halaman selanjutnya. Di halaman selanjutnya ada tulisan yang hamper dua
halaman. Septi membaca tulisan tersebut dengan nada lirih supaya temannya juga
dengar. Dan akhirnya setelah membaca tulisan itu sampai selesai, akhirnya ada
titik terang tentang hal yang sebenarnya terjadi pada diri Rini”
“ Oooo ternyata Rini suka sama
Angga. Tapi Angganya udah mau nikahan, dan hal ini membuat Rini jadi frustasi
karena hal itu.” Kata Septi kepada
teman-temannya yang berada di kamarnya Rini.
“ sepertinya Rini suka banget ya
sama Angga, sampai-sampai dia jadi nekad mau bunuh diri.” Imbuh Heny.
“ Sepertinya sih begitu kalau
dilihat dari tulisan ini. Tapi apa Anga juga tahu ya kalau Rini suka sama dia?”
Tanya Septi penasaran.
“ Entahlah yang pasti gimana.”
Jawab Heny.
“ gimana kalau buku ini kita
kasih ke Anna dan Tita biar mereka juga tahu penyebabnya. DMerka kan teman
dekatnya. Siapa tahu bisa membantu nyelesaiin masalah ini.” Kata Septi.
“ Kalau begitu biar aku aja yang
nyusul kerumah sakit dan ngasih buku itu. Mumpung hari ini aku tidak ada kuliah
pagi.” Tawar Heny.
“ Yaudah, kalau kamu yang mau
ngasih buku ini ke Anna dan Tita.
Kemudian mereka meneruskan
merapikan kamarnya Rini. Dan Heny bersiap-siap untuk nyusul ke rumah sakit.
*****
Sekitar pukul setengah tujuh,
Heny ssampai di rumah sakit dan mencari ruang dimana Rini dirawat. Dari
kejahuan, Heny melihat Tita dan Anna yang sedang duduk di depan ruang UGD.
Langsung saja Heny mendekati dua wanita dengan kerudung lebar itu.
“ Assalamualaikum An, Ta.”
“ Waalaikum salam.” Jawab mereka
berdua yang hamper bersamaan.
“ Gimana keadaan Rini sekarang?”
Tanya Heny.
“ Belum ada kepastian Hen, doakan
saja semoga Rini baik-baik saja.”
“ Ini An, tadi aku dan
temen-temen pas beresin kamarnya Rini buka-buka buku ini yang tadinya
tergeletak di samping Rini. Dan ternyata ada curahan hatinya, foto seorang
laki-laki dan potongan-potongan surat undangan.” Kata Heny sambil ngasih buku
itu ke Anna.
Kemudian Anna dan Tita
membaca-baca buku itu.
“ Ini kan temennya Rini dikampus
waktu kita ketemu itu kan?” tanyaTita penasaran.
“ Sepertinya sih iya. Sepertinya
dia jatuh cinta banget deh sama dia. Tapi sayangnya setengah bulan lagi dia mau
menikah”. Jawab Anna sambil membaca surat undangan.
“ Kok bisa ya gadis seperti Rini
jatuh cinta sampai begini.” Tanya Anna.
“ Semua bisa terjadi An karena
cinta. Bahkan ada yang rela menjual akidahnya ddemi kekasihnya yang berbeda
agama.” Jawab tita.
“ Iya juga sih.”
Ketika mereka bertiga
berbincang-bincang di depan ruang UGD dan jarum jam menunjukkan pukul delapan,
tiba-tiba dokter keluar. Mereka langsung berdiri dan bertanya tentang keadaan
temannya itu.
“ gimana keadaan teman saya dok?”
Tanya Anna.
“ Alhamdulillah teman Anda
baik-baik saja. Sekarang dia udah siuman dan perlu istirahat dulu. Untungnya
kalian segera membawanya ke rumah sakit. Karena racun yang berada di tubuhnya
belum menyebar ke seluruh badannya.” Jawab pak dokter.
“ Apa kita udah boleh masuk
menemui teman saya pak?”
“ Sudah. Tapi dia jangan terlalu
capek dulu dan perlu perawatan yang intensif. Kalau besok keadaannya sudah
membaik, bisa langsung dibawa pulang. Nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi saya
atau perawat yang lainnya.” Kata pak dokter.
“ Ya dok. Terimakasih banyak ya
dok.”
“ Iya sama-sama.” Jawab pak
dokter yang rawah dan masih muda itu.
Kemudian mereka bertiga masuk
menemui Rini.
“ Gimana keadaanmu Rin?” Tanya
Heny.
“ Terimakasih ya kalian udah
peduli sama aku. Entah setan apa yang udah masuk ke dalam tubuhku sehinga aku
nekad seperti ini.” Jawab Rini sambil
berlinangan air mata menyesali perbuatannya itu.
“ Iya santai aja Rin. Kita disini
udah jadi keluarga besar setelah keluarga di rumah. Jadi ya udah jadi kewajiban
kita buat tolong menolong.” Hibur Anna.
“ Iya Rin betul apa yang
dikatakan Anna. Kalau kamu butuh apa-apa atau ada maslah apa, kamu bisa curhat
ke aku, apa Anna apa Heny yang kamu anggap paling nyaman. Siapa tau kita bisa
bantu walau hanya kecil.” Tambah Tita.
“ kalau boleh tau, sebenarnya apa
yang terjadi Rin sehingga kamu akhir-akhir ini terlihat menderita banget.”
Tanya Heny yang pura-pura tidak tau tentang masalahnya.
Sebelum menjawab, Rini kembali
meneteskan air matanya yang entah keberapa kali karena teringat laki-laki
idamannya itu.
“ Aslinya ya Cuma masalah sepele.
Aku punya rasa sama laki-laki idamanku. Awalnya ya aku kira ini Cuma iseng-iseng
aja. Kok aku rasain tiap hari aku makin cinta sama lkai-laki itu. Bahkan
terbawa sampai ke dalam mimpi. Tadinya aku mau ngunggkapin perasaanku ini tapi
nggak kesampaian juga karena gengsi aku cewek. Aku pendam terus-menerus malah
tambah menyiksa pikiranku saja. Hingga suatu hari, aku mendapat undangan dari
dia tentang pernikahannya. Hal itu langsung menusuk hatiku. Tanpa kata apa-apa,
aku langsung meninggalkannya dan menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Setiap
hari aku terbawa perasaan karena dia. Aku yang hanya seorang cewek apa dayaku
yang hanya bisa memendam perasaaan ini berlarut-larut hingga aku tersiksa
seperti ini.” Jeals Rini sambil menatap langit-langit dinding.
“ Ya itulah cinta Rin. Kalau
orang sudah cinta, apapun rela dilakukan demi mendapat yang namanya cinta.
Banyak orang yang rela menukarkan akidahnya dengan cinta. Kamu harusnya
bersyukur Rin Allah masih sayang sama kamu, kamu masih diberi kesempatan untuk
menata diri lagi. Dan kamu harus bersyukur tidak masuk ke lembah perzinaan. Diluar
sana banyak yang rela berzina demi membuktikan rasa kasih sayangnya itu, iya
kalau akhirnya dinikahi, kalau akhirnya ditinggal pergi? Apa tidak rugi besar?
Ini adalah yang terbaik dari Allah untuk kamu Rin. Allah masih sayang sama
kamu. Allah pasti akan beri kamu yang terbaik. Kalau dia memang jodohmu dan
terbaik untukmu, aku yakin, bahwa Allah akan dekatkan dia kepadamu dengan jalan
yang benar. Kalaupun tidak, berarti ada yang jauh lebih baik untuk kamu Rin.”
Hibur Anna.
“ Betul yang dikatakan Anna Rin,
toh jodoh juga udah ada yang nentuin. Deketin aja yang nentuin itu, minta yang
terbaik. Pasti kamu akan di beri yang terbaik. Pokoknya kamu jadi baik dulu,
pati kamu akan mendapat yang baik juga. Bukannya jodoh itu cerminan diri?
Wanita baik untuk laki-laki yang baik juga dan sebaliknya. Itu sudah jelas dan
pasti karena itu Allah sendiri yang berfirman. Seperti kisah nabi Yusuf sama
zulaikha. Ketika zulaikha mengejar cinta Yusuf, semakin jauh Yusuf darinya.
Tetapi ketika zulaikha sadar dan mencoba mendekatkan diri kepada Allah, Allah
datangkan Yusuf untuk Zulaikha.” Sambung Heny.
“ Ya intinya kamu jadi baik dulu,
kalau kamu udah jadi pribadi yang baik, pasti kamu akan menemukan yang baik
juga. Kalau kamu tidak menemukan yang baik, kamu pasti yang akan ditemukan
orang yang baik. Sembari mencari, mengapa tidak sambil memperbaiki diri? Lagian
juga, siapa sih yang nggak mau sama kamu
yang cantik itu Rin? Mungkin laki-laki idamanmu itu juga suka sama kamu.
Mungkin dia menikah karena dijodohkan orang tuanya atau karena faktor yang
lainnya.” sambung Tita yang tak mau kalah dengan Anna dan Heny sambil tersenyum
kepada Rini.
Rinipun reflek tersenyum. Mereka
yang ada di ruangan itu merasakan kebahagiaan. Rini bahagia Karena ada orang
yang begitu perhatian dan sayang kepadanya dan mereka bertiga bahagia karena
bisa menolong temannya itu juga bisa membuat Rini tersenyum.
“ Terimakasih ya kalian udah
nyemangatin dan perhatian sama aku.” Ucap Rini.
Setelah
keluar dari rumah sakit dan sembuh dari sakitnya, Rini tambah semangat
memperbaiki dirinya dan bisa seperti sedia kala. Dia tambah rajin mengikuti
halaqah-halaqah dengan teman-teman peerempuan disuatu majelis.
1 tahun kemudian.
Rini
akhirnya dilamar oleh laki-laki yang dikenalkan dari teman halawahnya. Dan Rini
merasa sangat cocok dengan laki-laki yang dikenalkan padanya itu. Semua
kreteria Rini ada pada laki-laki itu. Akhirnya laki-laki itu melamarnya dan
melangsungkan pernikahan seminggu setelah Rini wisuda. Tak lupa Tita, Anna dan
Heny diundang dalam resepsi pernikhan itu. Dan Rini sangat berterimakasih
kepada mereka atas nasihatnya ketika dulu dia sakit. Dan semua perkataan mereka
terbukti. Dan ternyata laki-laki itu temannya Angga, laki-laki yang dulu pernah
mampir di hatinya. Tetapi Rini sudah bisa move on dan tidak terbawa perasaannya
karena telah menemukan imam yang dia damba-dambakan. Dalam hatinya, Rini
mensyukuri nikmat yang sangat besar itu. Dan akhirnya mereka bisa hidup bahagia
karena benuh-benih cinta diantara mereka bertiga. Ya diantara mereka bertiga.
Diantara Rini, suaminya dan Allah yang
maha pengasih lagi maha penyayang itu.
The end.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar